Skip to main content

Pelajaran Bekerja

Akhir-akhir ini, saya sedang mendapat banyak tekanan di kantor
Tuntutan pekerjaan yang makin menggila
Tanggung jawab yang semakin besar
Kertas post it yang makin menumpuk seiring dengan banyaknya detil yang harus saya kerjakan

Ada kalanya saya merasa sangat jenuh dan ingin lari dari rutinitas ini
Berangkat ke kantor pukul 7 pagi, pulang pukul 8 malam
Dan dengan rutinitas semacam itu, saya merasa sangat membutuhkan
"quality me time"
Itulah mengapa setiap hari Sabtu dan Minggu sebisa mungkin saya menghindar dari ajakan keluar
Ya kecuali kalau memang ketika itu saya ingin keluar
:D


Somehow, saya mendapat sangat banyak pelajaran dari berbagai masalah yang saya dapat akhir-akhir ini, khususnya terkait dengan pekerjaan
Setiap hari saya harus terbiasa mendengar komplain kanan-kiri
Mendengar "jeritan" dari hampir seluruh cabang di Region Jatim


Jengah ketika konsep rapi yang sudah saya buat tidak terpakai sia-sia
Bahkan mendapat celaan yang seringkali membuat saya ingin menangis
Dan ketika merasa down seperti itu, saya selalu mengingat perkataan Mbak Yani
"That`s what we hired for, Fan"
Ya, saya memang dibayar untuk melakukan pekerjaan itu
Jadi kesimpulannya, mengeluh pun tidak akan membantu saya menyelesaikannya
Saya malah hanya akan menambah beban diri sendiri


Akhirnya sekarang pun saya berusaha lebih "santai"
Kalau memang disuruh mengganti, ya sudah dikerjakan saja


Mbak Yani adalah staff rekrutmen HO yang mungkin paling memahami sifat saya
Memahami kelemahan dan kelebihan saya
Dan tidak bosan-bosannya mengingatkan saya kalau seandainya saya melakukan kesalahan


Me, Kak Ratna, Mbak Yani at Head Office


"This is your job, not your entire life. Don`t get your heart overly involved on it"
Mbak Yani paham sekali bahwa saya adalah tipikal orang yang mudah merasa down
Sedikit saja mendapat komentar negatif, saya bisa langsung merasa hancur


Dan kemarin ketika menelepon Mbak Yani ke kantor pusat, dia berpesan pada saya:
Dunia akan selalu memiliki banyak cara untuk membuktikan bahwa kamu tidak berarti. Tapi sekarang, dari dalam dirimu lah yang harusnya membuktikan bahwa dunia itu salah. Ketika kamu mendapat penilaian negatif dari orang lain, kamu harus mampu berkata ke dirimu sendiri: "I`m okay. You just got me wrong. Persepsimu tentang aku kok yang salah"


Poin penting lain yang harus saya garisbawahi di sini adalah belajar mengurangi komplain
Sekaligus juga bagaimana menyampaikan komplain dengan cara yang terpelajar
Bukan asal marah dan memprotes tanpa paham duduk perkara yang sebenarnya
Bukan sekedar komplain tanpa berpikir bagaimana rasanya jika menjadi orang yang dikomplain


Saya sempat berdebat cukup sengit via BBM dengan salah satu peserta BRO Education Program dari region Jatim yang saya kirim ke Jakarta
Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin dia komplain atas dasar info yang didapat dari teman region lain, sementara info yang didapat ngawur semua?
Dan ketika itu saya berpikir, andai saja dia tahu bagaimana perjuangan saya melawan aturan perusahaan agar mereka mendapat akomodasi terbaik ke Jakarta
But yeah, that`s work life :)


Saya juga belajar satu hal penting dalam berkomunikasi, khususnya mendelegasikan tugas
Ketika kita meminta orang lain melakukan suatu hal,
Berikan informasi yang memadai kepada mereka mengenai apa pentingnya hal yang mereka lakukan tersebut, dan apa manfaatnya bagi mereka
Jangan hanya langsung menyuruh, apalagi dengan kalimat,
"Udah, lakuin aja"


Saya pribadi rasanya sangat jengah ketika menerima bbm yang isinya,
"Fan, besok lo tes EPPS ya. Sekalian langsung skoring"


Hell yeah.
Tanpa kata tolong.
Tanpa penjelasan mengapa saya harus melakukan itu
Tanpa penjelasan apa pentingnya hal itu bagi saya
Who the hell you think you are, hah?


Saya masih belajar
Belajar untuk mengurangi kebiasaan mengeluh
Belajar berpikir positif
Tugas seberat apapun yang saya terima, pasti akan membawa manfaat positif bagi saya
Setidaknya, saya sudah memberi kesempatan bagi diri saya sendiri untuk
"memintarkan diri"
:)


Saya pun juga sedang berusaha memperbaiki hubungan saya dengan atasan
Setelah saya berpikir beberapa hari ini, saya baru sadar
Bagaimana mungkin dia bisa menghargai saya sementara saya sendiri mungkin secara tidak sadar juga dianggap tidak meghargai atasan?
Bentuk komunikasi sederhana ya dengan men-Cc-kan segala email yang saya kirim ke cabang
Tidak peduli apakah si bos akan membacanya atau tidak
Setidaknya dari sana dia tahu apa saja yang saya lakukan setiap hari


Taruh kepalamu di kepala orang lain, fan.
Ketika kamu kesal dengan para Branch Manager yang tidak menghargai usahamu atau meremehkanmu, pikirkan bahwa saat itu mereka juga sedang dikejar oleh target manajemen yang semakin menggila. Bantu mereka, fan.
Itu pesan Bu Landini kepada saya dan Kak Ratna ketika kami meeting di Head Office bulan April kemarin


Orang pasti akan terus nyinyir dengan apa yang kamu lakukan.
Akan ada banyak sudut pandang negatif yang bisa mereka labelkan ke dirimu.
So, why bothered?
Biarkan saja orang berpikir dengan pendapat mereka masing-masing.
Persepsi itu nggak ada yang salah kok
:)


Semoga setelah ini, saya bisa menjadi lebih dewasa
Bisa lebih bijaksana dalam memilih kalimat
Bisa lebih hati-hati dalam bertindak
Bisa lebih mengontrol emosi dan suasana hati


You will be judged on HOW you DO your work, and how you BEHAVE in USING your knowledge and skills


Be strong, fanny
^_____^

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah