Skip to main content

Penampilan Itu Penting, Jendral !

"Teori bahwa kita harus menerima pasangan apa adanya itu sebenarnya tidak tepat. Yang benar adalah, kita harus mengingatkan pasangan untuk menjadi lebih baik. Misalnya kalau pasanganmu memiliki masalah dengan bau badan. Apa kamu akan mendiamkannya begitu saja? Tentu tidak. Kita pasti ingin mendapatkan yang terbaik, dan membuat orang lain menjadi lebih baik"

Kurang lebih itulah yang pernah disampaikan oleh seorang teman kepada saya.
Kalimatnya itu membuat saya berpikir tentang banyak hal
Dan jujur, saya sangat setuju dengan apa yang dikatakannya itu

Pernah saya mengobrol di telepon dengan salah seorang manajer di kantor saya
Dia sering membahas tentang keluarganya dengan saya
Ketika itu, saya meledeknya karena ia mengatakan kalau ingin fitnes
Dalam pemikiran saya, buat apa repot-repot ikut fitnes
Menurut saya, penampilannya sudah sangat oke kok
Apalagi dia sudah memiliki istri dan anak yang pasti akan menerimanya apa adanya

Jawaban yang dia lontarkan cukup membuat saya tertohok

"Kata siapa orang yang udah nikah dan punya anak itu nggak perlu memperhatikan penampilan? Lo tau nggak, apa penyebab kasus perselingkuhan atau perceraian yang paling banyak terjadi? Simpel, penampilan. Lo bayangin deh gimana kalo seandainya pas suami pulang kerja, terus dia liat istrinya cuma paske daster, rambut acak-acakan, lemak dimana-mana. Enak nggak tuh diliat? Nggak salah donk, kalau akhirnya suaminya selingkuh sama cewek lain yang lebih bisa menjaga penampilan. Lo sendiri gimana rasanya kalo pas lagi sumpek, capek, terus ngeliat cowok lo pake baju nggak rapi, rambut acak-acakan nggak dicukur, muka kucel? Males kan? Malah bikin sepet mata. justru seharusnya setelah kita nikah, tuntutan dan tantangan untuk menjaga penampilan itu jadi hal penting. Kenapa? Karena lo tiap hari bakal ketemu sama pasangan lo. Kalo tiap hari ngeliat yang bikin sakit mata, salah siapa pasangannya selingkuh?"

Dan saya jadi teringat akan ajaran Islam
Seorang istri memang hanya diperbolehkan berhias untuk suaminya
Dan istri memang diminta untuk menjaga penampilannya di depan suami, begitu juga sebaliknya
:)

Prinsip yang saya anut sebenarnya juga tidak jauh berbeda ternyata
Orang yang tau bagaimana cara menjaga penampilan adalah orang yang bisa menghargai dirinya
Contoh sederhana, di kantor saya
Bagaimana jika seorang manajer berpakaian asal-asalan dengan rambut berantakan?
Mana mungkin bawahan bisa menghargainya sebagai seorang pemimpin, sementara ia sendiri tidak bisa menghargai dirinya?
Bandingkan dengan orang lain yang bisa menjaga penampilan
Baju kemeja rapi dan dimasukkan ke dalam celana
Rambut wangi
Wajah tidak kusam
Wangi
Semua yang melihat bisa langsung terpesona dan memberikan poin plus, bukan?
:)

Di kantor pun, tidak ada yang menyangka bahwa saya masih berusia 22
Cara berpakaian dan make up saya yang formal memang membuat saya tampak lebih dewasa, menurut mereka
Ya, itu memang sengaja saya lakukan
Kalau saya berpenampilan seperti anak kuliahan, mana mungkin mereka bisa mengahrgai saya sebagai satu-satunya HRD di region ini?
:)


Kesimpulannya: penampilan itu penting, jendral !
:D



Comments

Popular posts from this blog

Resolusi 2019: Mengurangi Benci

Saya memang tergolong orang yang selalu memiliki rencana atau target. Kalau ibarat sebuah permainan, setelah melewati level 1 maka saya akan berlanjut ke level 2, begitu seterusnya hingga permainan tersebut berakhir. Bicara tentang pergantian tahun, orang seringkali mengaitkan itu dengan resolusi. Sebagian besar orang akan memposting di sosial media apa saja resolusinya di tahun baru, yang kemudian akan di-amin-i oleh rekan yang membaca postingan tersebut. Saya? Percaya atau tidak, saya justru jarang memposting tentang resolusi. Hal itu bukan karena saya tidak memiliki resolusi. Bisa dibilang, ada dua alasan. Pertama, resolusi bagi saya adalah suatu hal yang pribadi. Sebut saja, sebuah janji kepada diri saya sendiri yang tidak perlu mendapat legitimasi. Kedua, resolusi saya seringkali berubah sewaktu-waktu (maha benar libra dengan segala kelabilannya wkwkwkwkwk). Tahun 2018 kemarin sejujurnya bukan tahun yang mudah bagi saya. Mungkin jika harus membuat perbandingan, porsi sed...

(NOT) AN INSTANT JUDGMENT

Saya sudah menggeluti bidang sumber daya manusia selama sekitar 7 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seluruh perusahaan tempat saya bekerja menaruh tugas rekrutmen sebagai salah satu indikator pencapaian. Tidak heran, saya cukup familiar dengan metode interview dan juga beberapa alat tes, terutama tes kepribadian. Saya pribadi termasuk golongan orang yang percaya akan pengaruh faktor kepribadian dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, biasanya saat pelaksanaan psikotes akan lebih banyak digunakan tes kepribadian dibandingkan kecerdasan. Meskipun saya seorang sarjana psikologi, saya tidak sembarangan memberikan analisa atau interpretasi dari alat tes. Terutama jika alat tesnya adalah alat tes proyeksi, seperti misalnya tes grafis menggambar pohon, manusia. Ketika menempuh pendidikan strata 1 selama 3.5 tahun memang saya pernah mempelajari alat tes tersebut. Tapi sesuai dengan kode etik psikologi,...

Dieu

Allah Beri aku kekuatan untuk percaya Bahwa rencana-Mu pasti luar biasa Allah Aku tahu bahwa Engkau menggenggam hatiku Jangan biarkan hatiku jatuh pada yang tidak mencintai-Mu Allah Aku percaya bahwa Engkau mampu membolak-balikkan hatiku Maka jangan biarkan aku tenggelam dalam pilu Allah Jangan biarkan aku menyesapi kesedihan yang berlebihan Ajari aku merasa cukup dengan cinta-Mu saja Agar aku percaya bahwa tiada kehilangan melainkan akan Engkau ganti dengan yang lebih bermakna Allah, aku pasrah